Monday, 11 November 2013

Setting IP Camera TP-LINK TL-SC3130 di modem ADSL TP-LINK TD8817

Cara Setting IP Camera TP-LINK TL-SC3130 di modem ADSL TP-LINK TD8817

Pertama-tama siapkan:
1. PC/Laptop
2. Modem ADSL TD8817
3. Swich HUB

Topologinya seperti ini:

MODEM----------HUB-----------IP CAMERA
                                |
                                |
                        PC/LAPTOP
Langkah-langkah:
1. Download software pendeteksi perangkat IP Camera DISINI atau gunakan CD installer-nya.
2. Setting IP laptop/PC kamu menjadi "obtain IP address automatically".
3. Setting modem ADSL TD-8817, caranya pada browser masukkan alamat 192.168.1.1, biasanya username dan password-nya sama "admin".
4. Setting modemnya sesuai dengan provider yang kamu gunakan, saya contohkan memakai speedy.
 
ingat...!!! Virtual Circuit di PVC 1
5. Setting IP local modem menjadi 192.168.0.1
Karena IP Camera bersifat DHCP maka kita bisa mendeteksi alamat IP-nya dengan meng-klik "curent pool summary", maka akan terdeteksi alamat PC/laptop kita dan network camera-nya.
6. Jika masih bingung, jalankan saja CD Installer atau software pendeteksi perangkat yang didownload tadi, kemudian jalankan installer-nya, maka akan tampil:
Pilih Network Camera, disana terdeteksi alamat IP camera adalah 192.168.0.91 dan klik Link to IE. Pasti akan meminta username dan password, masukkan "admin" keduanya.
Pehatian....!!!!!!  Jika pada internet explorer webpage tidak terbuka coba setting IE-nya:
Klik tool---internet option----security---custom level, kemudian enable-kan activeX controls plug-in dan semacamnya. Jika meminta install flash player, silahkan install dulu flash playernya.
7. Masuk ke menu setting IP Camera

 
 Klik SETTING>BASIC>Network>Information configuration:
a. Choose `Use the following IP address’.
b. IP Address: (alamat IP Camera kamu, tadi terdeteksi 192.168.0.91).
c. Subnet mask: 255.255.255.0 (default)
d. Gateway: (IP Address modem ADSL, tadi diset: 192.168.0.1)
e. DNS: 202.188.0.133 (jika ingin menggunakan layanan ftp snap)
f. Klick `ok’.
Saya kebetulan menggunakan DNS "fisnap", dan port yang saya gunakan 1234. Jika kamu ingin menggunakan DNS yang lain silahkan isi DNS, misal speedy= 203.130.193.74, 202.134.0.155, google=8.8.8.8, 8.8.4.4 dan jika kamu ingin menggunakan port yang lain, silahkan gunakan port yang belum terpakai.
8. Setting NAT di modem ADSL
Pada PVC 1 saya buat port 1234 diarahkan ke alamat IP camera 192.168.0.91
9. Buka alamat pada IE http://192.168.0.91:1234 atau alamat IP public kamu, contoh http://118.96.199.xxx:1234, harusnya terbuka gambar dari IP camera
Jika kamu ingin mempunyai fasilitas rekaman melalui FTP, silahkan pelajari di www.fisnap.com, atau bisa juga membuat FTP server sendiri dengan PC minimal P-IV.
Langkah-langkah setting FTP:
Saya asumsikan anda sudah mempunyai alamat FTP server di hosting kesayangan anda, atau anda sudah mempunyai PC server sendiri dengan alamat FTP-nya ftp://192.168.0.76, username=root password=root. Lakukan konfigurasi sebagai berikut:

 
Jika anda sulit membuat FTP server sendiri, silahkan pelajari filezilla atau ftp hosting yang direkomendasikan oleh TP-LINK.
Demikian semoga membantu.
 
 

SETTING CCTV KONEKSI KE INTERNET

CARA SETTING CCTV KONEKSI KE INTERNET

1. Cahaya
  • Jangan memasang CCTV dengan sumber cahaya secara langsung di depannya dan jangan menempatkan kamera inframerah saling berhadapan untuk menghilangkan risiko pencahayaan. 
  • Hindari pemasangan kamera ke arah cahaya yang dapat menyilaukan.
  • Gunakan infra merah untuk kondisi yang sangat gelap atau gunakan fitur camera B/W (black-white).
2. Tempatkan kamera di tempat yang strategis.
3. Usahakan agar pengkabelan kamera tidak terlalu jauh dari DVR untuk hasil kualitas video yang baik dan sistem instalasi kabel jangan digabungkan dengan jaringan listrik yang bertegangan tinggi untuk menghindari imbas elektromagnetik.
SETTING DVR
1. Sambungkan DVR ke monitor komputer beserta mouse-nya.
2. Klik kanan mouse, selanjutnya akan muncul menu konfigurasi. Kemudian pilih setup. Jika menanyakan  password, biasanya password-nya: 0000 (nol 4x) atau tergantung dari merk DVR-nya.
3. Pilih Network Setup dan pilih saja LAN.
 
-   IP address disesuaikan dengan IP pada modem ADSL/Router.
-   Untuk DNS sebagai contoh saya gunakan DNS open dns. Menggunakan DNS google juga bisa: 8.8.4.4
 4.Pilih HTTP Setup dan tentukan port -nya
 Port bebas diberikan asal anda ingat. Sebagai contoh saya berikan 7500
 5. DDNS
Jika kamu punya akun DDNS di dyndns.org sebaiknya masukkan alamatnya pada menu DDNS setup.
6. Setting modem ADSL
Pada modem ADSL (saya contohkan TP-Link TD-8817) setting NAT-nya agar dapat diakses di luar jaringan atau diakses jarak jauh melalui internet.
Coba perhatikan port yang digunakan harus sesuai dengan port pada DVR, begitupula IP address-nya.
7. Jalankan perintah ping pada komputer yang tersambung dengan jaringan ke DVR, yaitu 192.168.1.10. Harusnya akan melakukan reply dengan sukses.
8. Buka browser dan isi alamat  192.168.1.10:7500, maka akan terbuka halaman dengan tulisan: 
- open with internet explorer
- download remote monitor client
Silahkan gunakan internet explorer, namun security level harus dirubah menjadi custom level dan izinkan active x controlnya.
Atau dengan software bawaan software-nya dengan cara men-download monitor remote client.
9. Dengan internet explorer coba akses dengan IP public kamu (jika tidak tau coba ke www.whatismyip.com), contoh http://222.124.204.5:7500. Harusnya bisa langsung tampil gambar dari kamera. Atau dengan akun DDNS kamu, contoh http://bdgjarkom.dvrdns.com:7500
10. Jangan lupa berikan password untuk DVR kamu pada menu setup------>account
Selamat mencoba.

Friday, 25 October 2013

Blokir User Dengan DHCP Mikrotik

Blokir User Dengan DHCP Mikrotik

Blokir user dengan DHCP Mikrotik, dalam arti user yang menggunakan ip statik tidak dapat menggunakan koneksi internet kita. Hanya yang mendapatkan IP address melalui DHCP Server mikrotik kita yang bisa menggunakan koneksi internet, alias yang dapat ipnya secara otomatis.
Saya anggap DHCP Server dalam mikrotik router Anda sudah berjalan baik.

Lanjut Cara Blokir User Dengan Mikrotik

Pertama, kita hanya merubah settingan yang sudah ada. Masuk menu IP > DHCP Server klik 2x pada DHCP server Anda. Centang “Add ARP For Lease”

Kedua, kita masuk ke menu “Interfaces” klik 2x pada interface lokal Anda atau interface dimana Anda aplikasikan DHCP Server. Ganti option “ARP” menjadi “reply-only
Pengertian ARP adalah sebuah protokol dalam TCP/IP yang bertanggung jawab dalam melakukan resolusi alamat IP ke dalam alamat Media Access Control (MAC Address). Jadi Client yang tidak masuk dalam ARP List di mikrotik tidak bisa akses jaringan internet.

DONE ! Sekarang Anda coba menggunakan IP Statik pada komputer anda, koneksi ke router tidak akan berjalan kecuali jika anda menggunakan “Obtain an IP Address Automaticaly” alias DHCP pada interfaces/ethernet komputer Anda.

Tuesday, 15 October 2013

Setting VPN Mikrotik

Setting VPN Mikrotik

Setting VPN Mikrotik
Jika anda atau rekan kerja anda yang ada di luar kantor dapat mengakses PC di kantor (connect dengan internet) seolah-olah bisa bekerja seperti di dalam kantor? Maka VPN solusinya. Berikut langkah-langkah Setting VPN Mikrotik:
1. Setelah mendapat IP Public dari ISP, selanjutnya lakukan konfigurasi PPP -> PPTP SERVER.

2. Buat New Interface PPTP Server. Klik OK.

3. Berikutnya buat IP Pool yang akan digunakan untuk mengalokasikan sejumlah IP bagi VPN Client per-user yang nantinya akan terkoneksikan ke Mikrotik VPN Server. Selain dengan IP Pool, juga bisa mendelegasikan IP Address satu per satu per-user. Tapi jika jumlah VPN Client-nya banyak, maka cara ini yang paling tepat untuk dilakukan. Caranya : Klik menu IP –> POOL.

4. Kemudian buat sebuah Profile dengan nama VPN, pada menu PPP > Profile. Local Address adalah IP Address yang digunakan sebagai VPN Gateway oleh Mikrotik (yaitu IP Address Mikrotik LAN). Remote Address adalah IP Address yang akan diberikan kepada masing-masing VPN Client. IP Address inilah yang dikenali dan berkomunikasi dengan PC yang lain.

5. Selanjutnya klik PPTP SERVER. Option inilah yang menentukan apakah Fitur PPTP SERVER berfungsi atau tidak di Mikrotik. Aktifkan / centang tanda “ENABLE” lalu pilih Default Profile yang telah dibuat pada langkah keempat.

6. Langkah selanjutnya adalah membuat User VPN pada tab SECREET. Setting Username, Password, Service: PPTP dan Profile VPN seperti gambar di bawah

7. Selesai. Cara untuk membuat koneksi VPN Client di PC /Laptop :
  • Setup a new connection atau network untuk VPN. Klik START > Control Panel > Network and Internet
  • Klik Set up a connection or network
  • Pilih dan klik Connect to Workplace
  • Internet Address: masukkan dengan ip public koneksi kantor, lalu Next
  • Masukkan user dan password yang telah kita buat sebelumnya di mikrotik. Connect
8. Demikian sekilas cara setting vpn mikrotik, semoga bermanfaat

Tuesday, 18 June 2013

Ditemukan, Pintu Kuno Berusia 5.000 Tahun

Seorang arkeolog di Kota Zurich, Swiss, menemukan daun pintu peninggalan purbakala dari bawah tanah. Daun pintu itu ditaksir sudah berusia 5.000 tahun sehingga dianggap sebagai pintu tertua yang pernah ditemukan di Eropa. Ini adalah penemuan yang penting untuk mengetahui cara hidup masyarakat zaman purba.
Kepala tim arkeolog, Niels Bleicher, mengatakan bahwa pintu yang terbuat dari kayu poplar tersebut masih kokoh dan elegan. Desainnya, menurut Bleicher, juga sangat luar biasa untuk kualitas zaman dulu. “Pintu ini sangat luar biasa dilihat dari cara bagaimana papan-papannya disatukan,” ujar Bleicher seperti dikutip dari kantor berita Associated Press, Rabu 20 Oktober 2010.
Dengan menggunakan metode penghitungan lingkaran garis-garis kayu pada pintu, Bleisher memperkirakan pintu tersebut dibuat pada tahun 3.063 Sebelum Masehi (SM). Kayu papan pada pintu tergabung dengan rapi. Menurut Bleicher, pintu itu didesain untuk menghindari embusan angin dingin yang bertiup dari danau Zurich. “Desainnya pintar dan terlihat bagus,” ujar Bleicher.
Pintu ini ditemukan di bawah tanah tempat parkir gedung opera Zurich. Pintu ini merupakan bagian dari rumah panggung yang banyak terdapat dekat danau Zurich ribuan tahun yang lalu. Para arkeolog telah melacak sedikitnya lima desa neolitik yang diyakini ada di tempat tersebut antara tahun 3.700 dan 2.500 SM.
Arkeolog Jerman, Helmut Schlichtherle, mengatakan penemuan pintu berusia tua dalam keadaan utuh jarang sekali terjadi. Biasanya, menurut Schlichtherle, yang ditemukan hanya pondasi dari rumah panggung zaman dulu yang berhasil selamat. Pondasi rumah biasanya sudah terendam air, sehingga bakteri dan jamur tidak dapat tumbuh dan merusak pondasi.
“Mungkin beberapa orang mengatakan bahwa ini hanyalah sebuah pintu, tapi ini adalah penemuan yang luar biasa karena ini dapat membantu kita untuk mengerti bagaimana orang di jaman itu membangun rumah dan teknologi apa yang mereka pergunakan,” ujar Schlichtherle.
Pintu ini akan dipamerkan ke publik setelah dapat dikeluarkan seluruhnya dari dalam tanah dan direndam dengan cairan kimia khusus untuk mencegahnya dari pembusukan.(vivanews.com)

Monday, 10 June 2013

Trik dan Tips Simpan file di Google Code dengan TortoiseSVN


Salah satu hal yang membuat pengunjung blog dapat menikmati artile yang ditulis yaitu kecepatan dalam membuka blog. Kecepatan ini bisa dipengaruhi dari ukuran gambar, link-link file yang ada pada pada blog seperti CSS dan JS (javascript). Jika anda pengguna blogspot pada umunnya kode JS diletakkan secara internal didalam template. Hal ini menjaga agar kode-kode tersebut dapat berfungsi.

Selain secara internal kode JS/CSS dapat pula diletakkan dengan cara external (disimpan pada hosting luar). Kode yang disimpan secara external dapat mempercepat pemuatan dari blog (tergantung dari servernya). Salah satu tempat untuk menyimpan file JS/CSS yang terbaik menurut saya yaitu Google Code.

Kenapa Google Code? karena seperti halnya blogger, google code merupakan produk dari google dan pastilah servernya bagus serta memiliki kapasitas yang cukup besar (hingga 4 GB/project). Sebernarnya Google Code ini untuk menyimpan file project yang kita buat, tapi bisa dibuat untuk menyimpan banyak jenis file dan di panggil secara external ke blog.

Metode yang dianjurkan oleh google jika ingin menyimpan file dan memanggilnya secara external yaitu dengan subversion. Lalu mengelompokkan tipe file didalam folder. Misalnya folder CSS di simpan file untuk tipe CSS.

Nah kali ini saya akan memberikan langkah-langkah cara menyimpan file di Google Code dengan aplikasi TortoiseSVN.

Langkah-Langkah menyimpan file di Google Code

  1. Sign in Google Account seperti Gmail,google+,blogger dll.
  2. Download TortoiseSVN
    Bagi yang belum punya silahkan download di TortoiseSVN. Setelah selesai download install dan restart komputer anda karena nantinya akan terintegrasi dengan shell command (Klik Kanan).
  3. Memuat Project di Google Code
    • Create a new project
    • Isi project name(mis:presentasi-html5),project summary,descripstion,version control system (pilih subversion),Source code license(pilih Apache License 2.0),dan project label(mis:html) setelah terisi semua lalu Create project.
    • Klik tab Profile –> Setting dan catat password
     
    • Profile –> My Profile –> Project selanjutnya klik tab Source copy svn checkout seperti pada gambar yaitu https://presentasi–html5.googlecode.com/svn/trunk/
     

     Konfigurasi pada TortoiseSVN
    Klik Kanan pada Desktop pilih TortoiseSVN –> setting –> general –> edit maka akan muncul notepad.

    1. Tambahkan kode berikut dibawah:
      1# Makefile = svn:eol-style=native

    01[miscellany]
    02enable-auto-props = yes
    03
    04[auto-props]
    05# Scriptish formats
    06*.bat        = svn:eol-style=native; svn:keywords=Id; svn-mine-type=text/plain
    07*.bsh        = svn:eol-style=native; svn:keywords=Id; svn:mime-type=text/x-beanshell
    08*.cgi        = svn:eol-style=native; svn:keywords=Id; svn-mine-type=text/plain
    09*.cmd        = svn:eol-style=native; svn:keywords=Id; svn-mine-type=text/plain
    10*.js         = svn:eol-style=native; svn:keywords=Id; svn:mime-type=text/javascript
    11*.php        = svn:eol-style=native; svn:keywords=Id Rev Date; svn:mime-type=text/x-php
    12*.pl         = svn:eol-style=native; svn:keywords=Id; svn:mime-type=text/x-perl; svn:executable
    13*.pm         = svn:eol-style=native; svn:keywords=Id; svn:mime-type=text/x-perl
    14*.py         = svn:eol-style=native; svn:keywords=Id; svn:mime-type=text/x-python; svn:executable
    15*.sh         = svn:eol-style=native; svn:keywords=Id; svn:mime-type=text/x-sh; svn:executable
    16
    17# Image formats
    18*.bmp        = svn:mime-type=image/bmp
    19*.gif        = svn:mime-type=image/gif
    20*.ico        = svn:mime-type=image/ico
    21*.jpeg       = svn:mime-type=image/jpeg
    22*.jpg        = svn:mime-type=image/jpeg
    23*.png        = svn:mime-type=image/png
    24*.tif        = svn:mime-type=image/tiff
    25*.tiff       = svn:mime-type=image/tiff
    26
    27# Data formats
    28*.pdf        = svn:mime-type=application/pdf
    29*.avi        = svn:mime-type=video/avi
    30*.doc        = svn:mime-type=application/msword
    31*.eps        = svn:mime-type=application/postscript
    32*.gz         = svn:mime-type=application/gzip
    33*.mov        = svn:mime-type=video/quicktime
    34*.mp3        = svn:mime-type=audio/mpeg
    35*.ppt        = svn:mime-type=application/vnd.ms-powerpoint
    36*.ps         = svn:mime-type=application/postscript
    37*.psd        = svn:mime-type=application/photoshop
    38*.rtf        = svn:mime-type=text/rtf
    39*.swf        = svn:mime-type=application/x-shockwave-flash
    40*.tgz        = svn:mime-type=application/gzip
    41*.wav        = svn:mime-type=audio/wav
    42*.xls        = svn:mime-type=application/vnd.ms-excel
    43*.zip        = svn:mime-type=application/zip
    44
    45# Text formats
    46.htaccess    = svn:mime-type=text/plain
    47*.css        = svn:mime-type=text/css
    48*.dtd        = svn:mime-type=text/xml
    49*.html       = svn:mime-type=text/html
    50*.ini        = svn:mime-type=text/plain
    51*.sql        = svn:mime-type=text/x-sql
    52*.txt        = svn:mime-type=text/plain
    53*.xhtml      = svn:mime-type=text/xhtml+xml
    54*.xml        = svn:mime-type=text/xml
    55*.xsd        = svn:mime-type=text/xml
    56*.xsl        = svn:mime-type=text/xml
    57*.xslt       = svn:mime-type=text/xml
    58*.xul        = svn:mime-type=text/xul
    59*.yml        = svn:mime-type=text/plain
    60CHANGES      = svn:mime-type=text/plain
    61COPYING      = svn:mime-type=text/plain
    62INSTALL      = svn:mime-type=text/plain
    63Makefile*    = svn:mime-type=text/plain
    64README       = svn:mime-type=text/plain
    65TODO         = svn:mime-type=text/plain
    66
    67# Code formats
    68*.c          = svn:eol-style=native; svn:keywords=Id; svn:mime-type=text/plain
    69*.cpp        = svn:eol-style=native; svn:keywords=Id; svn:mime-type=text/plain
    70*.h          = svn:eol-style=native; svn:keywords=Id; svn:mime-type=text/plain
    71*.java       = svn:eol-style=native; svn:keywords=Id; svn:mime-type=text/plain
    72*.as         = svn:eol-style=native; svn:keywords=Id; svn:mime-type=text/plain
    73*.mxml       = svn:eol-style=native; svn:keywords=Id; svn:mime-type=text/plain
    74
    75# Webfonts
    76*.eot        = svn:mime-type=application/vnd.ms-fontobject
    77*.woff       = svn:mime-type=application/x-font-woff
    78*.ttf        = svn:mime-type=application/x-font-truetype
    79*.svg        = svn:mime-type=image/svg+xml
Buka folder file yang akan kamu upload misalnya kalau disini saya ambil slide presentasi dari slides.zip
Klik kanan pilih TortoiseSVN -> Repo-browser ,copy paste alamat (https://presentasi-html5.googlecode.com/svn/trunk/), Drag and Drop file (slides.html) masukkan username(alamat gmail) dan password (google hosting) sehingga muncul seperti gambar di bawah ini dan OK.
 

  • Selanjutnya kita coba masukkan alamat https://presentasi-html5.googlecode.com/svn/trunk/ di browser anda lalu klik slide.html
  • Nah mungkin begitulah caranya..Semoga dapat dimengerti..

    Aneka Alasan Telat yang Biasa Digunakan Orang

    Aneka Alasan Telat yang Biasa Digunakan Orang

    Terlambat alias Telat atau di istilahkan dengan jam karet bisa dikatakan sebagai nama marga bagi penduduk Indonesia. Belum Indonesia banget kalau belum pernah melakoni peran terlambat alias telat.
    Lebih parah pagi bagi mereka yang tinggal di Ibukota Jakarta. Segala hal di Jakarta yang hiruk pikuk ini susah diprediksi, jalanannya, cuacanya dan segala macamnya. Hal ini membuat keterlambatan menjadi stempel permanen di jidat hampir setiap orang di Jakarta. Nah, kalo sudah telat, biasanya akan banyak keluar excuse alias ribuan alasan dari mulut pihak yang telat. Berikut adalah  aneka alasan telat yang biasa digunakan oleh orang.

    “Gila, Di [Isi Nama Jalan] Macet Banget!”

    Ini adalah sebuah alasan yang paling sering digunakan oleh orang ketika telat, sampai-sampai kalo kamu menggunakan alasan ini ketika telat sekolah, palingan guru kamu cuma bilang, “Jakarta emang macet, kenapa gak berangkat lebih pagi?!”. Sesungguhnya, terkadang jalanan di Jakarta memang aneh. Jalanan yang biasanya gak macet sekalipun bisa tiba-tiba jadi macet luar biasa dengan ajaibnya. Jadi yah…sebasi-basinya alasan yang satu ini, sampai kapanpun akan tetap valid jika dikatakan di Jakarta.

    “Wah Sorry Men, Gue Harus Nganter Nyokap/Bokap/Adek Gue Dulu”

    Alasan ini banyak digunakan orang karena kamu gak bisa marah dong kalo dia harus nganter anggota keluarganya ke suatu tempat terlebih dahulu. Kalo kamu sampe marah, dia bisa bilang “Yah, itu kan nyokap gue. Moso gak gue anterin?!” Nah sekarang jadi kamu yang salah kan. Alasan ini bisa dikatakan sebagai salah satu alasan pamungkas, karena agak sulit juga dikorek kebenarannya. Ya bisa aja sih kalo mau, tapi kamu jadi kesannya gak percayaan gitu.

    “Wah Ada Demo nih di [Masukkan Nama Jalan]“

    Ini adalah alasan yang populer setelah tahun ’98, sebuah masa dimana demo di jalan raya mulai ngetrend. Alasan ini cukup beresiko karena yang namanya demo biasanya selalu masuk berita, dan dengan demikian gampang sekali dikroscek. Kalo mau pake alasan seperti ini, ada baiknya memang saat ada demo beneran.

    “Banjir!”

    Alasan ini hanya berlaku bagi orang yang memang tinggal di daerah-daerah banjir, seperti misalnya Pulo Raya, Kelapa Gading, atau Pluit. Kalo kamu tinggal di daerah yang hampir gak pernah banjir seperti misalnya Cinere gitu, pastinya alasan kamu ini akan jadi kurang valid. Gunakan alasan ini dengan cerdas.

    “Ada Problem Nih…”

    Ini adalah alasan yang biasa digunakan orang ketika dia sudah telat lama sampe ditelpon dan ditanya posisinya oleh pihak-pihak yang menunggu. Biasanya alasan ini keluar kalo si orang yang telat emang telat tanpa alasan yang valid dan dia belum menyiapkan alasan. Alasan ini akan menimbulkan kesan misterius, tapi sekaligus memberikan waktu bagi si orang telat untuk mengarang cerita yang keren.

    “Sorry sorry. Udah Lama Yah?”

    Sesungguhnya yang satu ini bukan alasan dan lebih ke basa-basi aja sih. Ada baiknya sih sebelum kamu berbasa-basi seperti ini, kamu lihat jam dulu dan menilai sendiri: sudah berapa lama kamu telat. Kalo kamu telat lebih dari satu jam, lebih baik kamu diem aja dan langsung traktir makan orang yang kamu biarkan menunggu itu.
    Nah itu dia aneka alasan yang sering digunakan orang ketika telat. Kamu punya alasan lain? Boleh lho dishare.

    Friday, 7 June 2013

    Katalog Part

    Thursday, 30 May 2013

    Atasi Transmisi Yamaha Mio Getar, Yuk Dilumasi

    Ada pemilik Yamaha Mio usai pakai sudah 3 tahun lebih, mengeluhkan kalau pacuannya bergetar. Terutama ketika riding di jalanan menanjak atau saat melakukan akselerasi. Tapi, saat sudah berjalan di jalanan yang lurus dan dalam kecepatan yang tetap, gejala tersebut seolah hilang.

    Tri Wahyanto yang ada di bengkel Serba Jaya, bilang kalau banyak dari konsumennya yang datang dan mengalami keluhan tersebut. “Gejala itu bukan karena disebabkan masalah pada mesin. Tapi, timbul dari bagian CVT-nya,” buka pria yang buka bengkel di Jl. Suruh-Salatiga Km. 1, Jawa Tengah ini.

    Lebih lanjut, marilah kita coba tengok bagian yang berfungsi sebagai pengatur kecepatan mesin yang diteruskan ke roda belakang ini. Di puli sekunder, terdapat komponen kopling sentrifugal dan torque cam.

    “Getaran yang terjadi saat motor menanjak dan saat akselerasi disebabkan karena bagian torque cam kurang mendapatkan pelumasan. Akhirnya akan mengalami keausan,” bebernya.

    Dijelaskan lagi memang pada bagian ini jarang sekali mendapatkan perawatan. Karena biasanya saat melakukan servis rutin, jarang yang sampai membongkar dan melakukan pelumasan part ini.

    Keausan bisa dicegah. Untuk pelumasan di bagian itu bisa pakai grease atau gemuk yang banyak dijual di toko asesoris dan perawatan sepeda motor.
     Caranya, lepas cover CVT. Selanjutnya, lepas juga kopling sentrifugal yang terhubung dengan poros puli sekunder. “Karena letak dari torsi cam berada di balik kopling sentrifugal,” terangnya.

    Hati-hati saat akan melepas kampas kopling sentrifugal, karena di situ ada pegas yang menekan kampas kopling keluar. Jika tidak hati-hati, kampas kopling sentrifugal bisa terlempar keluar karena gaya tekan pegas.

    Setelah semuanya terlepas, baru kita bisa melihat secondary sliding sheave dimana torsi cam berada. Untuk memberikan pelumasan pada torsi cam, terlebih dahulu buka sil penutupnya. Dan perhatikan juga kondisi sil tersebut. Jika memang sudah rusak, maka harus ganti.

    Setelah pelumas dimasukkan, selanjutnya tutup sil dengan sil yang baru agar tidak terjadi kebocoran. Lalu, rakit kembali komponen-komponen yang dibongkar tadi dengan urutan kebalikannya.

    Sil Tutup Klep Getas Bikin Oli Mesin Bocor!

    Tutup klep di kepala silinder yang sudah ngeces oli, kudu diganti. Itu tanda sil sudah waktunya dibuang biar enggak berisiko seperti gejala overheat. Sebab, volume oli bisa berkurang kalau dibiarkan oli ngeces lewat tutup klep.

    Ada yang bilang, sil tutup klep harus diganti setelah ada tanda oli netes. Padahal, kebayangkan berapa tekanan oli di klep masuk-buang yang dapat mengurangi debit pelumas di ruang bakar.

    Ingat cuy! Sedikit aja ada celah, oli akan meler keluar. Itu karena tekanan yang keras dari semprotan oli saat mendinginkan head silinder.

    Penggantian sil bukan kebutuhan jangka pendek. Tapi, ada beberapa penyebab yang bikin sil getas harus diganti. Diantaranya saat pemasangan permukaan sil enggak rapat ke bagian dalam tutup klep. Sil bisa ikut ketarik dan getas.

    Paling benar, setiap buka-tutup klep, ya harus ganti sil. Sebab, jika sil lama dipasang lagi pasti kekuatannya akan jauh turun.

    Pentingnya Inreyen Untuk Motor Baru dan Lawas

    Baik itu motor baru atau motor lawas, usai oversize baiknya dilakukan pemanasan atau inreyen dalam jangka waktu tertentu. Itu biar enggak bermasalah di jalan. Perlakukan khusus ini dimaksudkan, agar mesin tahan lama dan tidak gampang menyebabkan kerusakan fatal.

    Misal motor baru 4-tak. Biar kondisi mesin masih baru, bukan berarti bisa langsung digeber. Biar aman, nggak salah jika ganti oli baru dulu lalu dibawa jalan sebentar keliling kota.

    Fungsinya untuk merontokkan gram yang masih menempel di komponen mesin. Setelah itu, ganti oli baru agar ikut terbuang.

    Sedangkan buat motor oversize, tentu liner silinder habis dikorter. Nah, biar gerak naik-turun piston lancar ketika motor digeber, liner mesti dipoles ulang biar piston nggak gampang ngancing. Terutama ketika memuai akibat clearance liner dan seher terlalu sempit.

    Cuma saat poles liner, baiknya gunakan batu hijau campur minyak tanah atau oli sebagai bahan pembatu pengikisan. Lalu oleskan ke liner, sebelum digesek berulang sama piston tanpa ring dengan cara naik-turun dari berbagai sisi.

    Thursday, 2 May 2013

    Kebohongan pemerintah tentang subsidi BBM

    Kreativitas Fiskal dan Pembodohan Terhadap Masyarakat (Bagian 1)

    Seorang Sultan dari Negeri RI memiliki tanah yang sangat subur tetapi awalnya tidak sadar atas karunia tersebut. Sultan didatangi oleh orang asing yang ingin mengelola tanah nan subur tersebut dengan cara bagi hasil dengan pembagian 30% untuk asing dan 70% untuk Sultan.

    Dari pengelolaan tanah tersebut diperoleh hasil sebanyak 100 unit Produk MB per tahun dengan pembagian 30 unit untuk pengelola (mitra asing) dan 70 unit untuk Sultan. Dengan demikian, Sultan memperoleh 70 unit MB tanpa mengeluarkan biaya sama sekali (biaya = Rp 0). Sultan merasa sangat beruntung dengan kerja sama tersebut.

    Sultan sadar bahwa Produk MB ini sangat dibutuhkan oleh rakyatnya, dan berjanji akan menggunakannya demi kepentingan, dan untuk kesejahteraan, Rakyat RI. Oleh karena itu, Sultan memutuskan untuk menjual Produk MB tersebut di dalam negeri dengan harga jual eceran Rp 1.000 per unit, sehingga Sultan memperoleh Pendapatan sebesar Rp 70.000 (untuk 70 unit), tanpa mengeluarkan biaya pengelolaan tanah (produksi). Untuk menjual Produk tersebut kepada masyarakat, Sultan memerlukan Biaya Operasional (Logistik, Distribusi, dll) sebesar Rp 10.000 per tahun, sehingga tingkat keuntungan Sultan menjadi sebesar Rp 60.000, seperti perhitungan berikut ini:
    Pendapatan (Penerimaan) Rp 70.000 (70 unit @ Rp 1.000)
    Biaya Operasional (Logistik, Distribusi, dll) Rp 10.000 -/-
    Laba (atau Surplus) Rp 60.000

    Penciptaan istilah “Subsidi”

    Sultan diberitahu oleh Para Pembantunya bahwa harga Produk MB di luar negeri ternyata Rp 2.000 per unit. Namun, Sultan sadar sekali bahwa harga jual tersebut terlalu tinggi untuk di dalam negeri.

    Sultan adalah seorang yang sangat kreatif, dan berpikir untuk mendirikan sebuah perusahaan, PT Pert-MB, yang ditugaskan khusus untuk menjual dan mendistribusikan Produk MB di dalam negeri. Karena harga Produk MB di luar negeri sebesar Rp 2.000 per unit, maka Sultan memutuskan untuk menjualnya kepada PT Pert-MB dengan harga internasional tersebut. Tetapi, Sultan sangat sadar bahwa rakyatnya tidak mampu membeli Produk MB dengan harga Rp 2.000 per unit, dan menginstruksikan kepada PT Pert-MB untuk menjualnya kepada rakyat dengan harga Rp 1.000.



    PT Pert-MB tidak ada pilihan lain dan harus mentaati keputusan ini, yaitu membeli Produk MB dari Sultan dengan harga Rp 2.000 per unit dan menjualnya kepada masyarakat dengan harga Rp 1.000 per unit. Oleh karena itu, PT Pert-MB tentu saja akan mengalami kerugian sebesar Rp 1.000 per unit atau Rp 70.000 untuk 70 unit. Ditambah Biaya Operasional sebesar Rp 10.000 per tahun maka total kerugian PT Pert-MB akan menjadi Rp 80.000, di mana kerugian ini akan diganti sepenuhnya oleh Sultan dengan istilah “Subsidi MB”. Dengan bangga Sultan kemudian berkata kepada rakyatnya bahwa sekarang Sultan memberi “Subsidi MB” kepada masyarakat (melalui PT Pert-MB) sebesar Rp 80.000 per tahun. “Subsidi MB”inilah yang selalu dikomunikasikannya kepada masyarakat, dan masyarakat sangat senang atas kebaikan hati Sultan.

    Pembukuan PT Pert-MB
    Penjualan MB kepada masyarakat Rp 70.000 (70 unit @ Rp 1.000)
    Pembelian MB dari Sultan Rp 140.000 (70 unit @ Rp 2.000) -/-
    Rugi Penjualan sebelum Biaya Operasional Rp 70.000
    Biaya Operasional (Logistik, Distribusi, dll) Rp 10.000 +/+
    Total Kerugian yang harus di-“subsidi” Rp 80.000
    “Subsidi” dari Sultan Rp 80.000 -/-
    Total Rp 0 (nihil)

    Akan tetapi, benarkah demikian? Seorang ekonom, KKG, yang sangat kritis terhadap hitung-hitungan seperti ini dibuat terheran-heran, dan bertanya-tanya, mengapa negeri nan subur ini memerlukan subsidi Produk MB dari Sultan: pada awalnya Sultan memperoleh Laba (Surplus) sebesar Rp 60.000, tetapi kemudian berbalik menjadi memberi “Subsidi” sebesar Rp 80.000 (yang dikomunikasikan kepada masyarakat sebagai Kerugian), sedangkan di dalam praktek sehari-hari KKG tidak melihat ada perubahan apapun pada penjualan Produk MB di dalam negeri, baik dalam jumlah produksi, konsumsi maupun harga per unit produk MB. 
    Selidik punya selidik, KKG kemudian memperoleh fakta dari Nota Keuangan Sultan di mana tercatat ada Pendapatan yang berasal dari penjualan Produk MB kepada PT Pert-MB sebesar Rp 140.000 per tahun, yaitu 70 unit @ Rp 2.000. Di samping itu, dalam Nota Keuangan yang sama KKG juga melihat ada Belanja “Subsidi MB” kepada PT Pert-MB sebesar Rp 80.000 per tahun.

    Dengan demikian, Sultan seharusnya masih memperoleh Surplus sebesar Rp 60.000 (persis seperti pada awal transaksi sebelum PT Pert-MB didirikan).
    Nota Keuangan Sultan terkait Produk MB
    Pendapatan (dari PT Pert-MB) Rp 140.000 (70 unit @ Rp 2.000)
    “Subsidi MB” (kepada PT Pert-MB) Rp 80.000 (lihat pembukuan PT Pert-MB di atas) -/-
    Laba (Surplus) Rp 60.000

    Oleh karena itu, KKG kemudian mengambil kesimpulan bahwa subsidi yang di-claim oleh Sultan selama ini sebenarnya hanyalah sebuah ilusi saja, imajinasi saja. Subsidi tersebut sebenarnya tidak pernah ada. Faktanya, Sultan malah memperoleh Laba (Surplus) sebesar Rp 60.000 per tahun seperti perhitungan yang ada dalam Nota Keuangan Sultan yang ditampilkan oleh KKG di atas.

    Istilah “Subsidi” yang Semakin Populer, dan Pembodohan terhadap Masyarakat Sangat mengejutkan, harga Produk MB di luar negeri naik pesat menjadi Rp 2.400 per unit pada tahun berikutnya. Melihat perkembangan tersebut, Sultan kemudian meminta PT Pert-MB untuk membeli Produk tersebut dengan harga yang sama dengan harga luar negeri, yaitu Rp 2.400 per unit, tetapi menginstruksikannya untuk menjualnya di pasar domestik dengan harga yang sama, yaitu Rp 1.000 per unit, di mana total Kerugian PT Pert-MB tersebut akan diganti sepenuhnya (dengan kata lain, di-“subsidi”) oleh Sultan. Oleh karena itu, total kerugian PT Pert-MB yang akan “disubsidi” oleh Sultan menjadi Rp 108.000 seperti perhitungan berikut:

    Pembukuan PT Pert-MB
    Penjualan Produk MB kepada masyarakat Rp 70.000 (70 unit @ Rp 1.000)
    Pembelian Produk MB dari Sultan Rp 168.000 (70 unit @ Rp 2.400) -/-
    Rugi Penjualan sebelum Biaya Operasional Rp 98.000
    Biaya Operasional (Logistik, Distribusi, dll) Rp 10.000 +/+
    Total kerugian yang harus di-“subsidi” Rp 108.000
    “Subsidi” dari Sultan Rp 108.000 -/-
    Total Rp 0 (nihil)

    Sultan kemudian dengan bangga mengumumkan kepada Rakyat RI bahwa “Subsidi” yang diberikan oleh Sultan kepada masyarakat (melalui PT Pert-MB) meningkat dari Rp 80.000 menjadi Rp 108.000 karena harga Produk MB di dalam negeri tidak dinaikkan sesuai harga di luar negeri (artinya, harga Produk MB di dalam negeri tetap Rp 1.000 per unit). KKG sekali lagi mengintip Nota Keuangan Sultan, dan menyajikan data tersebut sebagai berikut.

    Nota Keuangan Sultan terkait Produk MB
    Pendapatan (dari PT Pert-MB) Rp 168.000 (70 unit @ Rp 2.400)
    “Subsidi MB” (kepada PT Pert-MB) Rp 108.000 (lihat pembukuan PT Pert-MB di atas) ./-
    Laba (Surplus) Rp 60.000

    Kesimpulan

    Ternyata, KKG melihat fakta (dari Nota Keuangan Sultan) bahwa Sultan masih tetap memperoleh surplus sebesar Rp 60.000: yaitu, penjualan kepada PT Pert-MB sebesar Rp 168.000 (70 unit @ Rp 2.400) dikurangi “Subsidi MB’ kepada masyarakat sebesar Rp 108.000).

    KKG mengangguk-angguk tanda mengerti, dan dalam batin dia mengatakan: tentu saja surplus tersebut tidak berubah, yaitu tetap Rp 60.000, karena kondisi di dalam negeri juga tidak berubah, dan sangat jelas bahwa kondisi di luar negeri tidak ada hubungannya dengan di dalam negeri.

    Tetapi, kebanyakan masyarakat, termasuk para intelektual, sudah sangat terpikat dengan pencitraan Sultan yang dianggap sangat bermurah hati karena memberi “Subsidi MB” kepada masyarakat dalam jumlah besar.

    Tetapi, sangat sayang bagi Sultan bahwa pembodohan ini tidak akan berlangsung lama lagi karena masyarakat sudah mulai tersentak dan tersadar dengan data yang disajikan oleh KKG, bahwa selama ini mereka dibodohi saja dengan istilah “Subsidi MB”. Kita tunggu saja reaksi masyarakat selanjutnya.
    Selang akhir tahun, harga Produk MB di pasar internasional naik lagi dengan pesat dan pada puncaknya mencapai Rp 3.000 per unit. Pembantu Sultan yang menangani masalah keuangan diminta nasehatnya mengenai dampak kenaikan harga Produk MB di pasar internasional terhadap keuangan Sultan.

    Pembantu Keuangan Sultan mengerti keinginan Sultan bahwa harga jual Produk MB kepada PT Pert-MB adalah berdasarkan harga internasional, yaitu Rp 3.000 per unit, tetapi, harga jual dari PT Pert-MB kepada masyarakat adalah Rp 1.000 per unit (yang disebut sebagai harga ber-“subsidi”). Harga jual Produk MB kepada PT Pert-MB dengan harga pasar internasional, meskipun hanya sebagai ilusi, sudah dilakukan sejak lama (karena itulah yang selalu dikatakan oleh Pembantu Keuangan terdahulu, dengan alasan bahwa Sultan sesungguhnya dapat menjual Produk MB di luar negeri dengan harga pasar internasional karena Produk MB sudah menjadi komoditas vital dunia yang paling dicari).
    Atas dasar asumsi harga jual tersebut, Pembantu Keuangan Sultan kemudian menghitung, dan sangat terkejut sekali melihat hasil hitungannya sendiri. Dengan tergopoh-gopoh, Pembantu Keuangan menghadap Sultan dan mengatakan apabila Sultan tidak menaikkan harga MB di dalam negeri maka Sultan akan mengalami kesulitan keuangan, alias keuangan Sultan akan jebol, karena Sultan harus menanggung beban ”Subsidi MB” yang sangat luar biasa besarnya, yaitu dari Rp 108.000 menjadi Rp 150.000, naik hampir 50%, seperti terlihat dalam perhitungan berikut:

    Pembukuan PT Pert-MB
    Penjualan MB kepada masyarakat Rp 70.000 (70 unit @ Rp 1.000)
    Pembelian MB dari Sultan Rp 210.000 (70 unit @ Rp 3.000) -/-
    Rugi Penjualan sebelum Biaya Operasional Rp 140.000
    Biaya Operasional (Logistik, Distribusi, dll) Rp 10.000 +/+
    Total kerugian yang harus di-“subsidi” Rp 150.000
    “Subsidi” dari Sultan Rp 150.000 -/-
    Total Rp 0 (nihil)

    Melihat hasil perhitungan tersebut, Sultan langsung tampil di depan publik dan berpidato (sambil berkeluh kesah) bahwa sekarang ini keuangan Sultan sedang mengalami permasalahan yang sangat serius akibat kenaikan harga Produk MB di pasar internasional. Beban “Subsidi MB” yang harus ditanggung oleh Sultan menjadi sangat berat, dan oleh karena itu, Sultan berharap Rakyat RI dapat memakluminya apabila harga Produk MB di dalam negeri dengan terpaksa dinaikkan untuk menyelamatkan keuangan Sultan, seraya menambahkan: “Sultan mana yang senang atau gembira menaikkan harga MB di pasar domestik?”

    Sekali lagi, ekonom KKG terheran-heran dibuatnya, dan tidak mengerti bagaimana kondisi di dalam negeri yang tidak berubah dapat mengakibatkan “Subsidi MB” meningkat seiring dengan meningkatnya harga internasional.

    Berdasarkan perhitungannya, Produk MB itu merupakan hasil dari tanah nan subur milik sendiri, milik Rakyat RI, oleh karena itu, tidak ada hubungannya dengan Produk MB di luar negeri, dan tidak ada hubungannya dengan gejolak harga internasional. KKG sempat berpikir, apa saya yang bodoh sehingga tidak dapat mengikuti perhitungan yang disajikan oleh Para Pembantu Sultan.

    Dengan rasa heran dan penuh rasa ingin tahu, KKG sekali lagi mengintip Nota Keuangan Sultan yang terbaru. Setelah mempelajarinya, KKG terperangah karena melihat fakta bahwa sebenarnya Sultan masih mengalami Laba (atau Surplus) sebesar Rp 60.000, persis sesuai prediksinya, yaitu surplus tersebut tidak mengalami perubahan apapun dibandingkan dengan kondisi sebelumnya. KKG mengutip hitungan dalam Nota Keuangan Sultan terkait Produk MB yang kemudian disajikan seperti berikut ini:

    Nota Keuangan Sultan terkait Produk MB
    Pendapatan (dari PT Pert-MB) Rp 210.000 (70 unit @ Rp 3.000)
    “Subsidi MB” (kepada PT Pert-MB) Rp 150.000 (lihat pembukuan PT Pert-MB di atas) -/-
    Laba (Surplus) Rp 60.000

    Tetapi, siapa yang mau mendengar KKG yang dianggap oleh banyak kalangan tidak mengerti permasalahan keuangan negara yang sangat rumit. Melalui Perwakilan Para Rakyat, maka disetujui harga Produk MB di pasar domestik naik dari Rp 1.000 per unit menjadi Rp 1.500 per unit untuk mempersempit perbedaan harga domestik dengan harga internasional, demi menyelamatkan Anggaran Keuangan Sultan.

    Menurut Pembantu Keuangan Sultan, dampak kenaikan harga domestik tersebut dapat mengurangi “Subsidi MB” dari Rp 150.000 menjadi Rp 115.000 (lihat hitungan di bawah), tetapi tetap lebih tinggi dari jumlah “subsidi” sebelumnya yang sebesar Rp 108.000.

    Pembukuan PT Pert-MB
    Penjualan MB kepada masyarakat Rp 105.000 (70 unit @ Rp 1.500)
    Pembelian MB dari Sultan Rp 210.000 (70 unit @ Rp 3.000) -/-
    Rugi Penjualan sebelum Biaya Operasional Rp 105.000
    Biaya Operasional (Logistik, Distribusi, dll) Rp 10.000 +/+
    Total kerugian yang harus di-“subsidi” Rp 115.000
    “Subsidi” dari Sultan Rp 115.000 -/-
    Total Rp 0 (nihil)

    Secara diam-diam, karena masih merasa tidak mengerti alur pikirin Sultan serta pembantunya terkait “Subsidi MB”, sekali lagi KKG mencoba melihat dampak kenaikan harga Produk MB di pasar domestik terhadap Nota Keuangan Sultan, dan menemukan sebagai berikut:

    Nota Keuangan Sultan terkait Produk MB
    Pendapatan (dari PT Pert-MB) Rp 210.000 (70 unit @ Rp 3.000)
    “Subsidi MB” (kepada PT Pert-MB) Rp 115.000 (lihat pembukuan PT Pert-MB di atas)
    Laba (Surplus) Rp 95.000

    Ternyata, setelah kenaikan harga Produk MB di pasar domestik menjadi Rp 1.500 per unit, Laba (Surplus) yang diperoleh Sultan mengalami kenaikan dari Rp 60.000 (sebelum kenaikan harga) menjadi Rp 95.000. Kenaikan Surplus ini sebesar kenaikan harga domestik dikalikan jumlah unit penjualan (Rp 500 x 70 unit = Rp 35.000).

    KKG melihat bahwa konsep penyusunan anggaran seperti yang disajikan oleh Sultan dengan istilah “Subsidi” merupakan pembodohan yang luar biasa terhadap masyarakat, karena sebenarnya Sultan mengalami Surplus dari pengeloaan tanah yang dilakukan Mitra Asing yang menghasilkan Produk MB, meskipun harga jual di dalam negeri lebih rendah dari harga internasional.
    Oleh karena itu, istilah “Subsidi MB” dapat dikatakan pembohongan besar terhadap masyarakat.

    Intinya, KKG mengatakan bahwa pengeluaran “Subsidi MB” dalam Anggaran Belanja Sultan adalah tidak riil karena tidak ada uang yang dikeluarkan.

    “Subsidi MB” ini akan dikompensasikan dengan penerimaan dari PT Pert-MB (yang juga tidak riil). Satu-satunya yang riil dalam Anggaran Penerimaan dan Belanja Sultan adalah Surplus (atau Laba) sebesar Rp 60.000 sebelum terjadi kenaikan harga di pasar domestik, atau Rp 95.000 setelah terjadi kenaikan harga. Tetapi, anehnya Surplus yang riil ini tidak pernah disebut secara eksplisit di dalam Nota Keuangan Sultan, melainkan harus dicari dan dihitung sendiri, seperti yang dilakukan oleh KKG. Benar-benar sebuah usaha pengaburan perhitungan yang sempurna.
    Ringkasan bagian sebelumnya, Sultan Negeri RI bekerja sama dengan Mitra Asing mengelola tanah nan subur ini, dan menghasilkan 100 unit Produk MB per tahun dengan pembagian 30%, atau 30 unit, untuk Mitra Asing dan 70%, atau 70 unit, untuk Sultan. Pada awalnya, 70 unit Produk MB ini jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

    Tetapi, perkembangan akhir-akhir ini cukup membuat Sultan pusing. Pasalnya, produksi dalam negeri menurun, sedangkan Mitra Asing juga meminta bagi hasil produksi dirubah akibat biaya kelola tanah (yang dinamakan cost recovery) meningkat: bagi hasil yang pada awal kesepakatan sebesar 30% untuk Mitra Asing dan 70% untuk Sultan minta dirubah menjadi 33,33% (atau 1/3 bagian) untuk Mitra Asing dan 66,67% (atau 2/3 bagian) untuk Sultan. Selain itu, permintaan konsumsi Produk MB di dalam negeri meningkat sehingga kebutuhan dalam negeri tidak dapat lagi dipenuhi oleh produksi dalam negeri, tetapi harus dipenuhi juga dari impor. Negeri RI sekarang sudah menjadi negara Net Importir Produk MB.
    Dari data terakhir tercatat bahwa hasil produksi pengelolaan tanah hanya mencapai 90 unit Produk MB. Dengan kesepakatan bagi hasil yang terakhir, Mitra Asing memperoleh 1/3 bagian atau 30 unit Produk MB, sedangkan Sultan akan memperoleh 2/3 bagian atau 60 unit Produk MB. Seluruh Rakyat RI tidak ada yang mengetahui, secara sadar atau tidak sadar, bahwa penurunan produksi hasil kelola Mitra Asing dari 100 unit menjadi 90 unit tidak membuat bagian perolehan Mitra Asing turun: Mitra Asing tetap memperoleh 30 unit. Artinya, seluruh penurunan produksi tersebut dibebankan kepada Sultan melalui kesepakatan bagi hasil yang baru akibat cost recovery naik.

    Bukan sulap dan bukan magic, tetapi nyata terjadi di Negeri RI yang tercinta ini: penurunan produksi yang dilakukan oleh Mitra Asing sebagai pengelola tanah tidak membuat perolehan mereka turun.

    Seperti diuraikan di atas, konsumsi Produk MB di dalam negeri meningkat terus dari 70 unit per tahun menjadi 75 unit per tahun. Karena Sultan sekarang hanya memperoleh 60 unit dari pengelola Mitra Asing, maka Sultan harus mengimpor Produk MB sebanyak 15 unit untuk memenuhi total kebutuhan dalam negeri.

    Nasib baik tidak berpihak pada Sultan, harga Produk MB di luar negeri naik sangat pesat belakangan ini, menjadi rata-rata Rp 4.000 per unit dari (harga sebelumnya sebesar Rp 3.000 unit). Melihat perkembangan yang sangat mengkhawatirkan ini, Pembantu Keuangan Sultan mulai menghitung apakah keuangan Sultan masih aman. Seperti biasa, Pembantu Keuangan sangat terperanjat melihat hasil perhitungannya, dan segera menghadap Sultan, melaporkan bahwa posisi keuangan Sultan dalam bahaya besar dan akan jebol apabila harga Produk MB di dalam negeri (yang sebesar Rp 1.500 per unit) tidak dinaikkan: “Subsidi MB” akan melonjak lagi, dan kali ini tidak tanggung-tanggung, dari Rp 115.000 pada tahun sebelumnya menjadi Rp 197.500 pada tahun ini, seperti terlihat dalam perhitungan di bawah ini.

    Pembukuan PT Pert-MB
    Penjualan MB kepada masyarakat (75 unit @ Rp 1.500) Rp 112.500
    Pembelian MB dari Sultan (60 unit @ Rp 4.000) Rp 240.000
    Pembelian MB Impor (15 unit @ Rp 4.000) Rp 60.000 +/+
    Total Pembelian MB Rp 300.000 -/-
    Rugi Penjualan sebelum Biaya Operasional Rp 187.500
    Biaya Operasional (Logistik, Distribusi, dll) Rp 10.000 +/+
    Total Kerugian yang harus di-“subsidi” Rp 197.500
    “Subsidi” dari Sultan Rp 197.500 -/-
    Total Rp 0 (nihil)

    Mendengar laporan tersebut, Sultan langsung segera tampil di depan publik, tentu saja sambil berkeluh kesah seperti biasanya, menyampaikan bahwa keuangan negara sedang mengalami kesulitan yang maha dahsyat akibat kenaikan harga Produk MB di luar negeri yang sangat tinggi, ditambah jumlah impor yang cukup tinggi karena konsumsi dalam negeri meningkat sedangkan produksi dalam negeri menurun sehingga seluruh kebutuhan dalam negeri tidak dapat dipenuhi dari hasil produksi dalam negeri.

    Sekali lagi, Sultan mohon dengan sangat agar Rakyat RI dapat mengerti bahwa harga Produk MB di pasar domestik terpaksa harus dinaikkan lagi, menjadi Rp 2.500 per unit, demi menyelamatkan keuangan Sultan. Dengan cara ini diharapkan beban “Subsidi MB” dapat ditekan untuk tidak naik terlalu tajam, hanya naik dari Rp 115.000 menjadi Rp 122.500, seperti terlihat pada perhitungan di bawah ini:

    Pembukuan PT Pert-MB
    Penjualan MB kepada masyarakat (75 unit @ Rp 2.500) Rp 187.500
    Pembelian MB dari Sultan (60 unit @ Rp 4.000) Rp 240.000
    Pembelian MB Impor (15 unit @ Rp 4.000) Rp 60.000 +/+
    Total Pembelian Rp 300.000 -/-
    Rugi Penjualan sebelum Biaya Operasional Rp 112.500
    Biaya Operasional (Logistik, Distribusi, dll) Rp 10.000 +/+
    Total Kerugian yang harus di-“subsidi” Rp 122.500
    “Subsidi” dari Sultan Rp 122.500
    Total Rp 0 (nihil)

    Setelah sekian lama mengikuti alur pikiran Sultan dan para pembantunya terkait “Subsidi MB” ini, KKG sudah paham benar bagaimana cara Para Pembantu Sultan menyampaikan dan menyembunyikan informasi yang membodohi masyarakat ini. Lagi-lagi KKG mengintip Nota Keuangan Sultan dan membeberkannya sebagai berikut:

    Nota Keuangan Sultan terkait Produk MB
    Pendapatan (dari PT Pert-MB) Rp 240.000 (60 unit @ Rp 4.000)
    “Subsidi MB” (kepada PT Pert-MB) Rp 122.500 (lihat pembukuan PT Pert-MB di atas) -/-
    Laba (Surplus) Rp 117.500

    Dari Nota Keuangan Sultan dapat dibaca bahwa keuangan Sultan sebenarnya mengalami Surplus yang lebih besar dari tahun sebelumnya, yaitu dari Rp 95.000 menjadi Rp 117.500, akibat kenaikan harga domestik yang disesuaikan dengan kenaikan harga internasional, yaitu Rp 1.000 per unit, meskipun jumlah Produk MB yang diterima oleh Sultan (dari bagi hasil kelola tanah dengan Mitra Asing) turun dari 70 unit menjadi 60 unit dan jumlah impor naik dari 0 unit menjadi 15 unit.

    Para Pembantu Sultan sekali lagi mensosialisasikan bahwa Sultan sebenarnya sangat bermurah hati karena meningkatkan jumlah “Subsidi MB” dari Rp 115.000 menjadi Rp 122.500, meskipun ada kenaikan harga domestik menjadi Rp. 2.500 per unit. Artinya, kenaikan harga domestik tersebut sebenarnya tidak terlau besar untuk dapat mencukupi kenaikan harga internasional serta kenaikan jumlah impor, di mana dapat dilihat dari jumlah “Subsidi MB” yang masih meningkat. Tetapi, informasi bahwa Surplus Produk MB mengalami peningkatan dari Rp 95.000 menjadi Rp 117.500 seperti terbaca dari Nota Keuangan Sultan, tidak akan pernah terungkap apabila ekonom yang bernama KKG tidak menelanjanginya.

    Masyarakat kini sudah mengerti benar duduk perkaranya, dan segera akan meminta pendapat Majelis Para Rakyat atau Majelis Konstitusi Rakyat untuk menurunkan fatwanya apakah Sultan boleh dengan seenaknya menaikkan harga domestik Produk MB sesuai dengan harga internasional sedangkan nyata-nyata Surplus di dalam Nota Keuangan Sultan terkait Produk MB malah bertambah besar akibat kenaikan harga tersebut.

    Kita tunggu jawaban Majelis Para Rakyat atau Majelis Konstitusi Rakyat, dan kita lihat apakah mereka masih mempunyai rasa empati terhadap Rakyat, dan pantas menyandang kata Rakyat dibelakang kata Majelis.

    — Selesai —sumber